Don’t Give Up

9 05 2009

Bye friends… see you soon.

Kita berpisah untuk sementara saja. Kita harus yakin bahwa selalu ada jalan untuk bisa menemukan kebersamaan lagi. Kita juga mestinya sadar, ini bukan harga mati yang tak bisa ditebus dengan keyakinan, usaha, sabar dan tawakal. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok hari. Bila ini memang harus kita lalui, ya memang mungkin inilah jalan yang mesti dilewati. Ibaratnya mau ke Roma tak harus lewat Soekarno-Hatta. Lewat macetnya Ciledug Raya pun kita bisa ke Roma. Insya Allah, jalan yang terbaik bagi kita masing-masing sedang kita rintis. Don’t give up friends…




Lubang di Jendela

2 05 2009

Setiap kegiatan sebisa mungkin harus menghasilkan. Demikian juga kegiatan piknik anak-anak kelompok empat ke Bogor, Sabtu (2/5) ini. Gara-gara naik KRL ekonomi AC yang bolong kaca jendelanya, maka moment ini sayang kalo dilewatkan. Maka nikmatilah foto yang sudah tayang di KOMPAS IMAGES berikut ini.

komig1

Foto lewat situs aslinyajuga bisa di-klik di SINI.




Bogor

2 05 2009

Bogor, perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Dengan bayang-bayang ‘perpisahan’ di depan mata, kami akhirnya bisa meluangkan waktu hang out di Kebun Raya Bogor. Sayangnya, agak kurang lengkap acara kali ini tanpa kehadiran Anggoro yang tengah menengok anak dan istri tercinta.

Seperti saran seorang pejabat di kantor kami, meluangkan waktu rekreasi bersama kelompok adalah hal yang penting. Kita gak tahu kapan lagi bisa berkumpul. Apalagi saat-saat menjelang detik penentuan seperti ini.

Oke guys, berikut sedikit cupilkan gambarnya.

bogor2

bogor3

bogor1




Buku Empat

2 05 2009

Akhirnya, setelah melalui perjuangan di ‘dapur’ dengan amat melelahkan, BUKU EMPAT bisa launching, Jumat 1 Mei kemarin. Orang yang nulis blog ini (OYNBI) yang sekaligus menggarap BUKU EMPAT merasa berterima kasih atas sambitan sambutan kawan-kawan kelompok empat yang begitu antusias.

Semoga buku itu bisa menjadi pelepas dahaga ketika suatu waktu kita dilanda perasaan kangen pengen kumpul-kumpul lagi. Buku itu adalah cermin kebersamaan kita selama ini. Dipertemukan dengan ‘paksa’, dipisahkan pula dengan ‘paksa’.

Oke guys, berhubung foto bukunya belum ketemu, untuk sementara ngomongin ini dulu ya. Lain kali disambung. Sip.




Dewi itu…

30 04 2009

Dewi identik dengan ‘balance’ antara kredit dan debet. Begitu kira-kira yang diucapkan seorang Bapak di kantor ini. Tadinya kami gak terlalu setuju. Namun… pagi ini terbukti. SMS Dewi ke orang yang nulis blog ini (OYNBI) belakangan isinya identik. “Sini donk… bayar anu dulu….” begitu kira-kira bunyinya.

Bahkan, kemarin, hanya dalam 30 menit, empat SMS identik sama persis hadir sebanyak empat kali. Huhu…

Tapi itulah Dewi. Ya begitulah Dewi. Kalo bukan Dewi ya siapa lagi.

Bendahara terbaik yang dimiliki kelompok ini. Saingannya gak ada sama sekali.

Namun, demikian. Kita harus berterima kasih kepada Dewi. Tanpa Dewi, siapa yang mau bekerja sedemikian mulia demi kepentingan bersama?

Dewi adalah bendahara. Bendahara adalah Dewi. Terima kasih Dewi. Bentar lagi aku bayar. Kembali sepuluh rebu ya.




Coming Soon

29 04 2009

Coming soon….. BUKU EMPAT, bukunya anak-anak kelompok empat yang norak.




Obat Cacing

27 04 2009

Pengakuan dari Titin, ia sempat minum obat cacing untuk membasmi oknum di perutnya yang menyebabkan kantuk dan tidak pernah gemuk. Tapi sayangnya obat cacing yang ia beli di apotik tampaknya belum bekerja. Padahal kata Fitri, dulu setelah ia minum dua kali, cacing bisa keluar hidup-hidup dari mulutnya! Urrgghhh….

Mungkin Titin salah obat. Atau mungkin dosisnya kurang. Mari kita tunggu kabar selanjutnya….




Narsis

26 04 2009

Virus narsis di kelompok empat sepertinya sudah akut. Dulu ada friendster (meski cuma segelintir oknum berinisial D, W , S dan B. Kemudian lebih parah lagi setelah kenal Facebook. Semuanya pada hobi pamer status, abis makan ini kek, lagi ngapain kek, bingung masalah hati kek. Setelah pamer status, eh pada suka pasang foto-foto dengan pose menatap kamera. Gak cukup cuma itu, eh pada suka ikutan kuis-kuis gak jelas lalu dipublish….

Maklumlah, namanya juga anak muda (untung yang tua gak ikut-ikutan). Dulu sempet sih dikenalin sama blog, biar narsisnya agak beda levelnya. Eh, sampe sekarang macet juga. Adanya ya cuma blog ini, kolektif pula… hehe…

But it’s okay. Ibarat dua sisi mata uang, gara-gara Facebook pula segelintir oknum di kelompok empat bisa masuk level narsis yang lebih elit alias masuk koran Republika (bisa dilihat di halaman Kliping Empat di atas).

Nah, lho… jadi kalo mau narsis diusahakan jangan kayak nguap. Sekali buka mulut langsung menguap. Mari kita narsis tapi elit. Masuk koran udah, gimana kalo besok masuk tivi?




Senam

24 04 2009

Senam hari ini panasnya minta ampun. Setengah delapan pagi serasa jam 12 siang. Tak heran banyak peserta senam tampak ogah-ogahan masuk ke lapangan. Padahal si bapak berambut putih pake kaos kerah putih (SBBPPKKP) sudah teriak-teriak pake pengeras suara (untung gak pake pengeras jalan alias aspal).
“Kumpul hoi!!! Ayo mulai!!” begitu kira-kira bunyinya SBBPPKKP.
Ya, gimana mau ngumpul, lha wong si mbak instruktur, sebut saja namanya Mawar, juga datengnya ngepas banget setengah delapan.
Tanpa diduga dan diprediksi sebelumnya, SBBPKKP malah curhat ke orang yang nulis blog ini (OYNBI)
SBPPKKP: “Coba kalo instrukturnya Vena Mellinda, pada cepet ngumpul di depan kali ya?”
OYNBI: ”Oh iya Pak, of course… setuju!”
Sayangnya Vena Mellinda udah jadi caleg yang kayaknya bakal lolos ke Senayan. Kan susah mau ngontak jadi instruktur senam. Kalo boleh usul, gimana kalau Aura Kasih saja? Sampai sore juga tahan deh…
By the way. Bagi yang nggak sempat ikut senam, tadi lagu-lagunya gak begitu asik. Nggak cocok sama gerakannya. Mau tau paylist-nya? Nih….
Puspa – ST12
Pacaran Ora Kawin Ora Enak (intro)
I Love You Beibeh – The Changchuters
Gantengnya Pacarku – Nini Karlina
Nuansa Bening – Vidi Almubarok
Trus… yang lain lupa ding…. Kan aye senam, ngapain juga ngapalin daftar lagunya?




Sepuluh Rebu Tiga!!

23 04 2009

Apa yang dibeli Mas Widi hari ini di dekat masjid Sarinah? Ada tiga macam, lap serba guna, pisau buah dan alat pijet-kerok. Harganya cukup murah, Rp. 10.000,- dapet 3.

Buat apa lap? Buat bersihin meja dan perabotnya di kos.

Kalo pisau buah? Ya buat ngupas apel kek, motong pepaya kek, ngiris roti kek (namanya juga hidup berumah tangga).

Trus alat pijet-kerok? Ini untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Dengan alat bantu ini, mijet cuma butuh 50 persen tenaga manusia. Jadi kalo istri lagi kecapekan, pake alat ini pun jadi. Ntar tinggal gantian gitu loh.